Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryAug 8, '06 12:37 AM
for everyone
Shubuh itu aku telah bersiap berangkat ke Musholla. Maklum adzan shubuh hampir berakhir. Baru saja pintu depan kubuka, terdengar teriakan suara istriku dari kamar mandi. Ternyata dilantai depan kamar mandi telah banyak darah berceceran. Akhirnya ku urungkan niat ke Mushollah, segera kulakukan sholat Shubuh dirumah, sementara istriku bersiap-siap. Sejurus kemudian kami telah berada didalam taksi yang meluncur kencang menuju RSB Sayang Ibu. Saat itu sekitar pukul 05.00 pagi.

Setelah diperiksa oleh suster jaga, ternyata baru bukaan 2 dan tidak ada keluhan apa-apa dari istri. Alhamdulillah, lega rasanya. Hari itu juga aku ijin tidak bekerja, ku temani istriku. Adzan Zhuhur terdengar dari masjid RS Darmo yang lokasinya tidak jauh dari RSB Sayang ibu. Terlihat istriku baru keluar dari ruang bersalin, katanya sudah bukaan 4. Dan kontraksi semakin sering saja datangnya. Waktu terus berlalu, terasa sangat lama. Di iringi rintihan kesakitan istriku ketika kontraksi datang. Sambil berjalan-jalan disekitar RSB, aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan bercerita apa saja, tapi sepertinya tidak banyak berpengaruh.

Akhirnya malam tiba, ba'da Magrib ketika aku baru datang dari Masjid istriku berkata kalau dokter minta persetujuanku untuk disuntik perangsang, karena sampai malam tetap saja masih bukaan 4. Karena disuntik perangsang akan membuat kontraksi makin sering dan lebih sakit, kutanya istriku apa dia bersedia. Istriku berkata, "biar sajalah seperti ini, kita tunggu saja".

Tiba-tiba aku ingat cerita dari kakakku bahwa berjalan naik turun tangga akan mempercepat persalinan, kebetulan di RSB ada tangga menuju lantai 2. Kutuntun istriku naik turun tangga sambil sesekali berhenti ketika kontraksi datang. sampai akhirnya dimarahi suster, katanya sih nanti gak bisa ngejan dengan baik karena kelelahan.

Akhirnya kami duduk didepan kamar bersalin, kontraksi istriku makin sering dan semakin terasa sakit. Suster melihatnya dan memeriksanya kembali, alhamdulillah ternyata telah bukaan 5, dan istriku sudah tidak boleh keluar dari kamar bersalin. Aku pun menemani disampingnya. Tidak lama kemudian pelayan RSB datang membawa gelas berisikan semacam akar-akaran yang direndam air panas, katanya itu rumput fatimah. Istriku harus meminumnya. Rumput fatimah berfungsi sama dengan suntik perangsang, yaitu mempercepat kontraksi dan persalinan.

Benar saja, sekitar pukul 20.00 air ketuban pecah, semenjak itu aku tidak bisa meningalkan istriku lagi, tangan kananku diremasnya erat-erat ketika kontraksi datang, makin lama makin sering dan makin sakit, terasa dari makin sering dan makin eratnya remasan tangan istriku.

Setelah itu proses jadi lebih cepat, sekitar pukul 20.35 bukaan bertambah menjadi 6, dan 1 jam kemudian telah bukaan 8. Suster kemudian mulai mengajarkan cara mengejan yang benar. Terlihat istriku sangat kesakitan ketika kontraksi datang, tanganku jadi terlihat sangat pucat karena aliran darah terhenti akibat diremas istri. Tepat pukul 22.00 suster menelepon dokter dan mengatakan "Sudah Lengkap Dok!!". Sekitar 10 menit kemudian dokter datang dan bersiap melakukan proses persalinan. Dan dimulailah perjuangan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa, semua terjadi begitu cepat dan tepat dihadapanku. Benar-benar perjuangan antara hidup dan mati, perjuangan yang berdarah-darah. Setelah selesai aku langsung lemas, padahal yang dibius istriku, saat itu tepat pukul 22.20.

--------

Sebenarnya aku tidak ingin menemani istri ketika melahirkan, membayangkan saja rasanya tidak sanggup. Teman-teman juga rata-rata tidak menemani istrinya ketika melahirkan, mereka memilih menunggu diluar. Ada juga RS yang tidak mengijinkan suami ikut kedalam kamar bersalin. Sampai aku membaca tulisan Pak Bahtiar HS yang dimuat di eramuslim berjudul Episode Memperbaharui Cinta. Benar-benar tulisan yang bagus. Setelah membacanya akupun  bertekat untuk memperbaharui cintaku pada istri, walau aku tak merasakan sedikitpun cintaku berkurang padanya.

Terimakasih Pak Bahtiar, tulisan anda membuatku bisa melalui perjuangan berdarah-darah yang memang benar-benar bisa membuatku makin cinta dan sayang pada keluarga.

Terimakasih istriku, yang berjuang mati-matian untuk melahirkan generasi penerusku

Terimakasih Ibu, dengan taruhan nyawa kau berjuang melahirkanku ke dunia yang indah ini, doaku selalu penyertaimu.

Terimakasih ALLAH untuk segalanya.


Add a Comment