Shubuh itu aku telah bersiap berangkat ke Musholla. Maklum adzan shubuh
hampir berakhir. Baru saja pintu depan kubuka, terdengar teriakan suara
istriku dari kamar mandi. Ternyata dilantai depan kamar mandi telah
banyak darah berceceran. Akhirnya ku urungkan niat ke Mushollah, segera
kulakukan sholat Shubuh dirumah, sementara istriku bersiap-siap.
Sejurus kemudian kami telah berada didalam taksi yang meluncur kencang
menuju RSB Sayang Ibu. Saat itu sekitar pukul 05.00 pagi.
Setelah diperiksa oleh suster jaga, ternyata baru bukaan 2 dan tidak
ada keluhan apa-apa dari istri. Alhamdulillah, lega rasanya. Hari itu
juga aku ijin tidak bekerja, ku temani istriku. Adzan Zhuhur terdengar
dari masjid RS Darmo yang lokasinya tidak jauh dari RSB Sayang ibu.
Terlihat istriku baru keluar dari ruang bersalin, katanya sudah bukaan
4. Dan kontraksi semakin sering saja datangnya. Waktu terus berlalu,
terasa sangat lama. Di iringi rintihan kesakitan istriku ketika
kontraksi datang. Sambil berjalan-jalan disekitar RSB, aku berusaha
mengalihkan perhatiannya dengan bercerita apa saja, tapi sepertinya
tidak banyak berpengaruh.
Akhirnya malam tiba, ba'da Magrib ketika aku baru datang dari Masjid
istriku berkata kalau dokter minta persetujuanku untuk disuntik
perangsang, karena sampai malam tetap saja masih bukaan 4. Karena
disuntik perangsang akan membuat kontraksi makin sering dan lebih
sakit, kutanya istriku apa dia bersedia. Istriku berkata, "biar sajalah
seperti ini, kita tunggu saja".
Tiba-tiba aku ingat cerita dari kakakku bahwa berjalan naik turun
tangga akan mempercepat persalinan, kebetulan di RSB ada tangga menuju
lantai 2. Kutuntun istriku naik turun tangga sambil sesekali berhenti
ketika kontraksi datang. sampai akhirnya dimarahi suster, katanya sih
nanti gak bisa ngejan dengan baik karena kelelahan.
Akhirnya kami duduk didepan kamar bersalin, kontraksi istriku makin
sering dan semakin terasa sakit. Suster melihatnya dan memeriksanya
kembali, alhamdulillah ternyata telah bukaan 5, dan istriku sudah tidak
boleh keluar dari kamar bersalin. Aku pun menemani disampingnya. Tidak
lama kemudian pelayan RSB datang membawa gelas berisikan semacam
akar-akaran yang direndam air panas, katanya itu rumput fatimah.
Istriku harus meminumnya. Rumput fatimah berfungsi sama dengan suntik
perangsang, yaitu mempercepat kontraksi dan persalinan.
Benar saja, sekitar pukul 20.00 air ketuban pecah, semenjak itu aku
tidak bisa meningalkan istriku lagi, tangan kananku diremasnya
erat-erat ketika kontraksi datang, makin lama makin sering dan makin
sakit, terasa dari makin sering dan makin eratnya remasan tangan
istriku.
Setelah itu proses jadi lebih cepat, sekitar pukul 20.35 bukaan
bertambah menjadi 6, dan 1 jam kemudian telah bukaan 8. Suster kemudian
mulai mengajarkan cara mengejan yang benar. Terlihat istriku sangat
kesakitan ketika kontraksi datang, tanganku jadi terlihat sangat pucat
karena aliran darah terhenti akibat diremas istri. Tepat pukul 22.00
suster menelepon dokter dan mengatakan "Sudah Lengkap Dok!!". Sekitar
10 menit kemudian dokter datang dan bersiap melakukan proses
persalinan. Dan dimulailah perjuangan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa
berkata apa-apa, semua terjadi begitu cepat dan tepat dihadapanku.
Benar-benar perjuangan antara hidup dan mati, perjuangan yang
berdarah-darah. Setelah selesai aku langsung lemas, padahal yang dibius
istriku, saat itu tepat pukul 22.20.
--------
Sebenarnya aku tidak ingin menemani istri ketika melahirkan,
membayangkan saja rasanya tidak sanggup. Teman-teman juga rata-rata
tidak menemani istrinya ketika melahirkan, mereka memilih menunggu
diluar. Ada juga RS yang tidak mengijinkan suami ikut kedalam kamar
bersalin. Sampai aku membaca tulisan Pak Bahtiar HS yang dimuat di
eramuslim berjudul
Episode Memperbaharui Cinta.
Benar-benar tulisan yang bagus. Setelah membacanya akupun bertekat
untuk memperbaharui cintaku pada istri, walau aku tak merasakan
sedikitpun cintaku berkurang padanya.
Terimakasih Pak Bahtiar, tulisan anda membuatku bisa melalui perjuangan
berdarah-darah yang memang benar-benar bisa membuatku makin cinta dan
sayang pada keluarga.
Terimakasih istriku, yang berjuang mati-matian untuk melahirkan generasi penerusku
Terimakasih Ibu, dengan taruhan nyawa kau berjuang melahirkanku ke dunia yang indah ini, doaku selalu penyertaimu.
Terimakasih ALLAH untuk segalanya.